Showing posts with label Sajak dari Mimpi. Show all posts
Showing posts with label Sajak dari Mimpi. Show all posts

Wednesday, June 8, 2016

Kamu,


Siapa kamu? Berlalu lalang di pikiranku.
Siapa dirimu? Tampakkan wajah dalam lamunanku.
Beraninya masuk dalam kehidupanku perlahan.
Aku terperangah untuk marah.
Terlalu lancang kamu getarkan hatiku yang masih penuh luka.
Apa maksudmu membuatku mengedit cuplikan pahit masa lalu berbalik menjadi scenario manis masa depan?
Apa maumu? Sembuhkan berbagai kepiluan.
Tidakkah kamu bercermin? Kamu terlalu jauh sempurna.
Terlalu tega menyeretku ke dalam kehidupan manismu. Pantaskah? Aku hanya menjadi titik pahit yang akan muncul.
Aku benar – benar menasehatimu sekarang.
Aku menekankan.
Jangan coret kisahmu bersama orang – orang semacamku. Semacam orang yang telah terluka dan enggan. Tanpa kepedulian dan hanya akan menghina ketulusanmu. Tidakah kamu tahu?
Orang yang akan menyerap cahayamu dan menjatuhkan rasamu.
Kamu mengetahuinya.
Kamu tahu.
Dari awal kamu lebih paham.
Tapi.
Kamu terus melaju.
Kamu tingkatkan rasamu.
Kamu memelukku erat dengan ketulusan diatas kepedulian.
Kamu simbol sempurna di mataku, namun ku samarkan.
Kamu simbol wangi dalam penciumanku, namun ku samarkan.
Kamu simbol tulus di hatiku, namun ku samarkan.
Kamu simbol hangat di ragaku, namun ku samarkan.
Kamu simbol segar di pagi indahku, namun ku samarkan.
Kamu simbol terang di malam gelapku, namun kusamarkan.
Kamu Kamu Kamu.
Yang selalu aku samarkan namun makin bersinar terang.
Kamu makhluk sempurna bertabur kelemahan yang indah dalam nuansaku.

Kamu ya Kamu.

Secarik Kertas Yang Hilang


Berpindah tempat ? atau musnah ?
Hilang ? atau diambil orang ?
Maaf aku tidak mempercayai jika itu berpindah tempat ataupun diambil orang. Tidak, bukan aku, tapi hatikulah yang tidak percaya.
Aku tidak memindahkan dari awalnya. Kuletakkan pada waktu dan tempat yang seharusnya.
Tak terpindah dan tak tersentuh yakinku.
Segala kepercayaanku terletak disana.
Dan pagi buta,,,
Aku tertipu.
Aku dibodohi.
Aku terkecoh oleh kepercayaanku sendiri.
Itu aneh bagi logikaku dan bagi perasaanku.
Secarik kertasku hilang.
Badanku tergerak mencari di sekeliling 3m x 3m.
Diatas sana.
Bukan tapi dibawah sana.
Apa di dalam ini.
Tapi mungkin disana.
Tidak! Disebelah sini.
Oh! Mungkin sebelah sana.
Dan tak ada.
Secarik kertasku hilang.
Tanganku bergetar dan sekujur tubuhku mulai mengikutinya. Mataku mulai menatap ke segala arah bergantian diikuti tengokkan kepala ke kanan dan ke kiri menuju 180° lalu kembali. Mengigil dan kosong. Dingin dan terlalu membingungkan. Kuucap kalimat – kalimat dzikir yang sedikit menenangkanku. Kalimat pengaduan pada Tuhan.
Aku samasekali tak takut tentang nantinya. Tidak! Aku tak berpikir dampak kehilangan ini. Ya! Aku terlalu sibuk dengan pertanyaan :
Mengapa ini bisa terjadi?
Bagaimana ini terjadi?
Aku terlalu takut untuk menghadirkan pertanyaan lain dikepalaku.
Penolakkan takutku membuat pertanyaan itu semakin berputar dan dalam di otakku.
Aku mulai membuka lemari dan mencari lagi lagi lagi sampai akhirnya tanganku mengenai,,,
Parfumku jatuh dengan indahnya kebawah seperti dalam drama. Aku terdiam sejenak sambil menatap serpihan kaca botol parfum yang berkilau dan tersebar. Dan kepanikan mulai beranjak naik. Perlahan semerbak wangi menyelimuti ruangan. Namun hatiku tak turut mewangi. Aku bergegas ingin menstabilkan detak jantungku yang semakin tak teratur dan membuatku berkeringat dengan segelas air.  Kubuka lemari lainnya dengan perlahan dan hati – hati terhadap serpihan kaca yang siap menjebakku.  Dan ku ambil sebuah gelas yang akhirnya pun mengikuti sang parfum. Dalam sekejap sang gelas pun hanya menjadi serpihan kaca dengan ukuran yang tak teratur. Di pagi buta itu seakan semua memilih untuk meledak. Mereka seakan mengejekku yang bahkan tak bisa marah ataupun menangis. Semua seperti bersembunyi menghindari tatapanku yang penuh tanya dalam kebingungan.
Terimakasih waktu, napasku mulai menempatkan hembusan yang seharusnya. Tubuhku yang gemetar mulai ku paksa untuk membersihkan keresahan ruang itu. Namun yang bisa disingkirkan hanya serpihan kaca, rasa rasa lain belum hilang layaknya semerbak wangi itu. Kurebahkan tubuhku dan mulai menatap langit – langit kamar. Seakan menyempit dan menyesakkanku. Kutekuk tubuhku hindari tatapan langit – langit, kupeluk bantal guling yang seakan bagai batu yang tak ingin lentur kupeluk. Kututup tubuhku dengan selimut karna seakan 0°.
Dadaku sudah tak kuat untuk memendam. Ku coba kabarkan pada dunia sempitku seadanya. Tapi kalimat - kalimat yang kupilih sepertinya menggambarkan keanehan dan kebodohan yang mutlak. Aku mencoba manja dan berlindung dengan kalimatku, namun tak tersampaikan dengan baik. Aku mulai mengetik tak teratur dengan tangan gemetarku. Tak sadar apa yang ku ketik namun aku sadar aku butuh ketenangan dari pengaduanku. Namun tetap, tetap saja mereka seperti memberiku kesinisan. Muak dengan dunia sempitku, aku mencoba menyapa air pagi itu. Beranjak keluar kamar dan berselimut air. Sekembalinya ke kamar seperti tak biasa, seperti tergambar senyum – senyum pembodohan. Tanganku meraih mukena dan mulai membuat pengaduan pada Tuhan dengan kebingungan. Aku meminta pengampunan-Nya, perlindungan-Nya, dan ketenangan hati. Ya, aku meminta secara lebih pagi itu. Mulai terdengar suara penenangan samar. Aku tergetar dan meluap. Tapi takutku tak berkurang.
Ku coba sapa hari dengan hirup udara luar, mencoba berjalan meski tangan gemetar. Mencoba tersenyum sebagai luapan ketakutan. Jangan tanya mengapa aku bisa! Ku sapa kawanku ,sembunyikan tanganku mencoba biasa.
Sepanjang keseriusan itu aku masih tergetar. Mencoba tetap mengikuti alur dan berekspresi sesuai suasana. Aku butuh penenangan lain entah dalam bentuk apa, hati ini tetap tak luapkan apa inginnya. Hanya resah dan sesak saja yang ia cerminkan.
Sesekali aku berucap menanggapi rangsangan – rangsangan kalimat luar tentang keseriusan.
Namun meski aku baik dalam bersandiwara pasti ada saja bagian tubuhku yang menolak.
Meski mataku mungkin tertutupi lapisan tabu, namun tanganku sangat jujur kali ini. Sang tangan yang bergetar sejak pagi buta tampilkan keresahan. Aku meminta izin temanku untuk meminjamkan tangannya untuk kugenggam. Senyum simpulnya meraih tanganku tanpa terucap ada apa dan mengapa. Terimakasih. Sepanjang keseriusan itu aliran negatifku tersembuhkan oleh tangan temanku. Dan akhirnya keresahanku tertumpuk keresahan yang lain. Ini seperti bertubi namun masih dapat ku terima. Kau ada di titik dimana kestabilanmu goyah. Tak apa itu membuatku sedikit lupakan.
Meski sehari itu getaranku hilang, namun ketakutanku masih tersimpan. Berfikir tentang bagaimana itu terjadi adalah sesuatu yang membuatku mengingat kembali betapa bodohnya aku. Tak bisa akui pada kenyataan bahwa aku takut, bingung, dan bodoh. Aku terlalu egois untuk mengaku lemah, untuk berucap aku tak sanggup.
Namun aku yakin Tuhan punya maksud yang indah dibalik ini. meski sesuatu yang tak dapat aku tangkap.
 Mungkin Tuhan ingin melihat sejauh mana aku dapat bersandiwara pada insan-Nya dan sebaik apa aku sembunyikan segala gambaran hatiku.
Mungkin Tuhan juga ingin memperingatkan bahwa tidak perlu selalu menyembunyikan kelemahan untuk terlihat kuat. Justru orang – orang  memperlihatkan kelemahan untuk mendapat kekuatan dari orang – orang disekitarnya.
Tidak perlu menahan luapan hati yang seharusnya tertumpah untuk terlihat lebih kuat. Justru orang – orang mendapatkan banyak kekuatan setelah mereka meluapkannya.
Tuhan punya banyak rahasia dan rencana terbaik untuk hamba – hamba – Nya. Aku percaya dan tak goyah disana.
Ini, yang terjadi padaku. Biarkan aku menjadikannya sebagai buku berhalaman tebal mengandung banyak makna, sejarah, dan petuah.
Terimakasih Tuhan atas getaran itu.

Engkau maha segalanya,,,

Wednesday, May 18, 2016

Princess Hours #2

Seolah Shin mulai meletakkan perhatian padaku. Tanpa ada penjelasan tentang perasaannya dia selalu berseru dia adalah suamiku. Sikapnya seperti biasa selalu kasar dan tidak pernah memikirkan perasaanku.

Berbeda dengan Yul, Yul sangat baik padakku dan dia selalu baik pada semua orang. Setiap orang pasti akan merasa nyaman di dekat Yul.
Aku juga pernah bilang pada Yul, seandainya aku lebih dulu bertemu dengannya, mungkin aku akan jatuh cinta padanya dan bukan Shin.

Entah apa yang terjadi antara Shin dan Yul, sepupu yang selalu bergesekan. Mereka benar - benar sangat panas dan kaku jika bersama.

Yul pernah bilang padaku bahwa seharusnya Yul yang menjadi Putra Mahkota dan aku adalah istri Yul sekarang. Aku selalu menganggap Yul sebagai seorang teman dan keluarga. Yul tidak memiliki apapun tapi Yul seperti malaikat yang sangat baik. Yul sangat berbeda dengan Shin, mereka berkebalikan.

Yul mengatakan bahwa aku dan Shin sangat tidak cocok. Aku selalu tersakiti oleh Shin dan Yul membiarkan hatiku yang akan memahaminya. Sesekali Yul mengajakku berlari dari dunia Kerajaan, dari Shin, karena segalanya hanya akan menyakitiku. Sebelum semuanya terjadi Yul ingin membawaku pergi dengan segala kenyamanannya.

Shin sangat membenci kedekatanku dengan Yul karena Shin tau Yul menyukaiku dan didukung oleh ketidakcocokkan antara mereka berdua.
Apakah Shin cemburu?
Kenapa Shin harus cemburu sedangkan dihatinya masih tersimpan Hyorin?
Apakah Shin mulai menyukaiku?
Atau Shin hanya ingin menjalankan protokol kerajaan?
Apakah Shin takut kehilanganku?
Atau aku salah jika memiliki pemikiran semacam ini?

Princess Hours #1

Bigung Mama, gwenchanayo?
Aku selalu menangis karena Shin, aku juga selalu tersakiti karena Shin. Saat Shin mulai melihatku dan aku tersadar di matanya masih ada orang lain.
Aku juga belum mendengar langsung pengakuannya jika benar dia menyukaiku, itu mungkin hanya kebiasaan saja. Setiap pagi saling melihat satu sama lain, makan bersama, pergi kesemua tempat bersama.

Ketika aku tidak melihatnya aku sangat khawatir padanya. Saat Shin pergi jauh aku merasa kesepian dan ingin pergi mencarinya. Selalu seperti itu.

Shin sangat egois, Shin selalu mementingkan perasaannya dan tidak peduli perasaan orang lain. Dia selalu meletakkan dirinya diatas orang lain.
Saat Shin menyesal, Shin tidak pernah mengatakan maaf dan tidak benar - benar menyesal diraut mukanya. Shin selalu memintaku untuk berhenti bersandiwara.

Shin dan aku sangat berbeda, perbedaan yang tidak bisa dikurangi. Perbedaan yang sangat banyak, disinilah kita sangat terlihat berbeda.

Shin mengatakan sesuatu hanya untuk merasa baik. Dapatkah Shin membuatku lebih nyaman disaat sulit? Shin selalu mengatakan bahwa dia tidak tau bagaimana caranya. Bagi Shin, merasa nyaman hanya sia - sia ketika itu tidak menyelesaikan masalah.
Bukankah setiap orang saling memberikan kenyamanan sebagai bentuk dukungan sehingga perasaannya membaik untuk menghadapi sebuah masalah.
Aku selalu mengaharapkan Shin bertanya " Caegyung, apakah kau baik - baik saja? "